Advertisement

melawan kutukan sumber daya alam

kabupaten bojonegoro salah satu penghasil minyak tertinggi di jawa timur,potensi migas di  bojonegoro diperkirakan mencapai 600 juta - 1,4 miliyar barel cad sekitar 1,7- 2 triliun kaki kubik , angka tersebut cukup besar di indonesia berada di blok cepu ang di eksploitasi oleh exxon mobil.

selain exxon mobil di blok cepu ada juga JOB PPEJ (Petrochina – Pertamina) mengelola lapangan sukowati dengan produksi 3 juta barel per tahun, ada juga lapangan tiung biru yang  masih tahap eksploitasi di duga cukupp besar mencapai  250 juta kaki kubik, dengan produksi yang cukup besar ini di perkirakan menyumang  mencapi 20 % produksi nasional , dengan potensi yang cukup besar ini timbul pertanyaan kutukan atau berkah ?


kutukan sumber daya alam atau di kenal dengan istilah blood diamond, negara yang sering memperbutkan sumber daya migas dengan menggunakan kekuatan yang represif dikenal  arab spring tentu memberi contoh penting bagaimana konflik,bencana kemanusian diikuti dengan rendahnya pembangunan ekonomi rakyatnya , keadaaan ini terjadi rata rata di negara yag berliimpang dengan sumber daya alam, hal ini patut kita takuti mengenai  nasib bojonegoro kedepannya menjawab tantangan dan ancaman tersebut  

lebih  jauh lagi  mengenai teori sumber daya alam, dalam teori sumber daya alam dikemukakan M. Sachs, Rosser, dan George Soros, terdapat 3 konsep dasar  Bojonegoro akan menghadapi suatu tantangan rent-seeking (sewa/hutang tertutup), dutch disseas (kota mati) dan lemahnya institusi pemerintah

menyinggung mengenai teori sumber daya manusi bojoonegoro akan dihadapkan pada rent-seeking yang  mengasumsikan pada mengelola sumber daya yang tidak murah memaksa pemerintah  untuk menarik investor yang seluas luas nya baahkan meminjam dana yang sebesar besarnya , hal ini tidak menjadi sebuah masaalah pada penjualan harga migas dengan catatan harga yang setabil, 

namun hingga hari iini belum terdapat indikator ketentuan menstabilkan harga migas alasanya karen berbagai faktor ,diantaranya faktor eksternal dan faktor geopolitik, bisa dikatakan apabila produksi minyak sedang tinggi tinginya sedangkan harga sedang menurun bila diistilahkan dengan kata  bojonegoro muspro podo wae geroh atau diistilahkan dengan return 

untuk memerangi ancaman kutukan sumber daya alam di butuhkan trasparasi maupun akuntabilitas dalam semua aspek penerimaan dan tata kelola sumber daya ekstraktif serta pembagian ataupun penggunaan dana hasil sumber daya ekstraktif untuk menanggulangi kemiskinan, besarnya penerimaan dari sektor ini seharusnya bisa menangulangi kemiskinan yang ada di bojonegoro 

data terakhir menunjukan bahwa tingkat kemiskinan menurun tetapi tingkat  keparahan kemiskinan menjdi sangat tinggi, ini menunjukan bahwa tingkat kesengjangan , di lihat dari kemampuan daya beli masyarakat miskin tidak merata (2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar