Advertisement

Menyikapi Keberlimpahan Minyak Dengan Fikiran Dan Prilaku Cerdas

Oleh: Verdi Indra Satria*
eksplorasi minyak

“Dari ladang menyok menjadi ladang minyak” kalimat seperti itulah yang saat ini banyak terceloteh dari mulut warga Bojonegoro, memang saat ini masyarakat Bojonegoro boleh berbangga hati, julukan lumbung energi nasional kini disematkan pada Bojonegoro karena 20% minyak bumi Indonesia yang dikandungnya.

Dihimpun dari berbagai sumber, kabarnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa tahun 2012 lalu menyebutkan bahwa  di perut bumi Bojonegoro terdapat cadangan minyak mentah yang diperkirakan mencapai sekitar 650 juta barel. tercatat pada tahun 2014 lalu produksi minyak diBojonegoro mencapai sekitar 54 ribu barel/hari.

Adanya gas bumi tersebut seakan menjadi harapan baru bagi masyarakat bojonegoro, tak sedikit yang berandai-andai bahwa adanya minyak tersebut akan membawa perubahan yang lebih baik pada tatanan ekonomi masyarakat bojonegoro. kehidupan mereka akan lebh baik, anak-anak mereka akan bisa bersekolah sampai kejenjang yang tinggi, dan kehidupan mereka-pun tentram, setidaknya itulah secuil harapan dari masyarakat bojonegoro yang digantungkan pada keberlimpahan minyak bumi tersebut. 

Tak salah memang, sebuah hal yang sangat wajar berharap kehidupan yang lebih baik dari keberlimpahan potensi yang dimiliki oleh daerahnya. apalagi saat ini ekonomi Bojonegoro terus menunjukkan perkembangan yang positif dari tahun ketahun.

Namun sekarang yang menjadi pertanyaan ialah apakah semua harapan masyarakat tersebut serta berbagai permasalahan dibojonegoro bisa dislesaikan dengan adanya minyak tersebut? jelas sebuah pertanyaan yang membingungkan. akan banyak jawaban dari pertanyaan ini mengingat permasalahan bojonegoro sangatlah banyak, seperti tanah gerak, kekeringan, banjir, kurangnya sumberdaya manusia yang handal, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Entah bagaimanapun jawabannya sebaiknya masyarakat bojonegoro mulai berfikir cerdas, bahwa harapan-harapan mereka serta berbagai permasalahan dibojonegoro bukanlah persoalan yang gampang dan semudah membalikkan telapak tangan untuk menyelesaikannya. masyarakat harus berhenti berfatamorghana bahwa adanya lautan minyak dibojonegoro akan dapat menyelesaikan semuanya. bukan bermaksud mengkubur harapan namun sebagai manusia kita juga perlu belajar dari pengalaman.

Seperti yang telah kita ketahui, salah satu masalah yang dihadapi Bojonegoro adalah kurangnya sumberdaya manusia yang handal dan mumpuni diberbagai sektor, tak terkecuali disektor perminyakan, terbukti saat ini minyak Bojonegoro juga dikelola oleh asing sedangkan mayoritas warga Bojonegoro sendiri hanya puas menjadi tenaga kasar, satpam, dan juga flagman. ibarat menjadi budak dirumah sendiri, lalu apa yang patut dibanggakan dari hal ini? tentu masyarakat harus mulai berfikir kritis. kualitas pendidikan, kualitas sumberdaya manusia, serta kejelian terhahap pengawasan eksplorasi minyak juga harus terus ditingkatkan agar tidak terus diperbudak oleh orang lain.

Bojonegoro juga harus waspada terhadap kutukan sumberdaya alam. masyarakat harus sadar bahwa minyak bumi adalah sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui dan sudah barangtentu akan habis dikemudian hari. untuk itu jangan sampai kue minyak ini yang harusnya bisa masyarakat nikmati bersama justru menjadi boomerang yang bisa berbalik arah menjadi sebuah kutukan. jikalau saat ini masyarakat dan bahkan pemerintah hanya mengandalkan minyak maka ketika nanti minyak bojonegoro sudah habis lalu apa yang bisa mereka perbuat? justru kehidupan mereka akan bertambah parah. akan banyak yang bingung mencari kerja, harapan-harapan yang digantungkan terhadap adanya minyakpun sirna, belum lagi efek global warming dan kerusakan lingkungan yang di timbulkan setelah eksplorasi minyak tersebut.

Untuk itulah pemberdayaan dan pengembangkan sektor non migas perlu ditingkatkan seiring keberlimbahan produksi minyak saat ini, akan sangat bijak bila kekayaan hasil produksi minyak tersebut digunakan untuk mngembangan sumberdaya manusia (SDM) di Bojonegoro, pengembangan ekonomi kreatif, pengembangan keterampilan juga perlu untuk di tingkatkan, sehingga kelak jikalau produksi minyak habis masyarakat bojonegoro yang saat ini menggantungkan hidupnya pada minyak tersebut sudah siap dan sudah memiliki alternative lain untuk pengelolaan ekonomi serta keberlangsungan kehidupan mereka.

"Optimis Harus, Waspada Wajib!!"

*)Penulis adalah ketua umum Ikatan Mahasiswa Bojonegoro (IKAMARO) UIN MALIKI Malang 2014-2015

sumber gambar: Bojonegorotoday.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar