Advertisement

Pemkab Bojonegoro Wacanakan Bangun Greenbelt

Bojonegoro (beritajatim.com) - Hingga akhir Januari 201 Kabupaten Bojonegoro masih dibayangi bencana, khususnya bencana banjir. Baik itu banjir bandang maupun banjir luapan Sungai Bengawan Solo, Sabtu (17/01/2015).

Seperti misalnya beberapa titik di Kabupaten Bojonegoro yang mengalami banjir, yakni di Kecamatan Kanor dan Malo. Tak hanya akibat luapan anak sungai Bengawan Solo, namun banjir ini juga disebabkan hutan gundul.

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro, idealnya, run off atau aliran air hujan akan mengalir dan tertampung di sungai sebanyak 30-40%. Sementara sisanya terserap tanah yang akan tersimpan menjadi air tanah.

Faktanya, saat ini tanah hanya bisa menyerap 30-40% air hujan karena hutan yang gundul. Tak hanya menyebabkan banjir, hutan gundul ini juga mengakibatkan tanah longsor di daerah-daerah bukit di Bojonegoro.

Sehigga tingginya debit air yang masuk ke anak sungai ini tak bisa tertampung seluruhnya. Dijelaskan Andik Sudjarwo, Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro, tak hanya melebihi kapasitas sungai, namun melubernya air hingga menyebabkan banjir bandang ini juga lantaran terjadinya pendangkalan dasar sungai.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi resiko banjir bandang ini. "Sudah dilakukan normalisasi hingga perbaikan tanggul yang jebol maupun kritis, namun perlu dilakukan upaya lain untuk jangka panjangnya," jelasnya.

Andik menambahkan, antisipasi jangka panjang ini harus dilakukan sedini mungkin. Salah satunya adalah membuat greenbelt atau sabuk hijau di sepanjang aliran anak sungai Bengawan Solo yang rawan meluap. Untuk melaksanakannya, semua SKPD terkait harus turut andil dalam program ini. "Jika ada greenbelt, setidaknya akan mencegah pendangkalan akibat longsor dan meningkatkan daya serap tanah," imbuhnya.

sumber: beritajatim.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar